Minggu, 22 Desember 2019

Menyelamatkan Peninggalan Pangeran Cakrabuwana

Pemerintah Cirebon sedang berusaha menggali potensi budaya di wilayahnya. Beberapa langkah dilakukan, salah satunya mengumpulkan koleksi-koleksi benda sejarah.

Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Cirebon tengah fokus menggali potensi benda-benda bersejarah untuk melengkapi koleksi Museum Pangeran Cakrabuwana Cirebon.

Sebab, koleksi benda bersejarah di Museum Pangeran Cakrabuwana masih minim. Kepala Disbudparpora Kabupaten Cirebon Hartono mengatakan salah satu upaya untuk menggali potensi benda bersejarah dengan membentuk wadah bagi guru seni dan budaya di Kabupaten Cirebon.

"Ini bertujuan untuk menggali potensi yang belum ada di Pangeran Cakrabuwana. Keinginan kami melalui simpul guru seni dan budaya barangkali mereka memiliki informasi koleksi baik di sekolah, maupun desa masing-masing. Kita akan koordinasi untuk jadi tambahan koleksi di museum," kata Hartono kepada detikcom usai acara seminar tentang museum di kantor Disbudparpora Kabupaten Cirebon, Jabar, Selasa (24/9/2019).

Hartono tak menampik koleksi benda bersejarah yang ada di museum masih belum lengkap. Ia mengaku masih banyak benda bersejarah yang berada di luar museum.

"Isi museum menurut kami masih harus diisi, belum komplit. Kami sedang mencari. Contohnya jenis keris. Baru ada beberapa keris khas Cirebon, harusnya itu minimalnya ada 50 jenis keris khas Cirebon dilihat dari kerangka dan gagangnya," katanya.

Lebih lanjut, Hartono mengatakan koleksi benda bersejarah yang menyangkut seni dan budaya Cirebon diharapkan bisa menjadi media belajar pelajar Cirebon. Sehingga, lanjut dia, pelajar Cirebon bisa lebih mencintai budaya Cirebon dibandingkan budaya lain.

"Jangan sampai tahu budaya daerah lain, tapi lupa budaya sendiri," ucapnya.

"Saat ini museum yang ada itu sifatnya untuk seni dan budaya. Karena lahannya belum represtatif. Kita sedang merancang untuk pembangunan museum lagi di wilayah Sumber, nanti sifatnya lebih umum," tambah Hartono.

Di tempat yang sama, Budayawan Cirebon Raffan S Hasyim mengatakan Museum Pangeran Cakrabuwana Cirebon memiliki keunggulan koleksi wayang, seperti wayang golek cepak, wayang kulit dan lainnya. "Memang koleksi di sini belum berseri, ke depannya berseri semua ada wayang, topeng, gerabah dan lainnya. Ya masih bertahap," kata budayawan yang akrab disapa Opan itu.

Opan juga tak menampik pihak Museum Pangeran Cakrabuwana terbilang lambat memburu koleksi wayang dibandingkan negara lain.

"Kalau kita bandingkan dengan yang lain kita ketinggalan. Belanda itu sudah mengumpulkan koleksi wayang sejak tahun 70-an. Kita kalah. Sedangkan Jerman tahun 90-an sudah memburu wayang Indonesia. Nah, daripada kita tidak punya koleksi sisa yang ada kita kumpulkan dan tampung," katanya.

90 Detik Penuh Horor, Saat Pesawat Terjun Bebas 30.000 Kaki

Sekadar saran di awal, jangan lanjutkan membaca jika Anda gampang trauma. Ini kisah sebuah pesawat yang mendadak sempat terjun bebas hampir 30.000 kaki, memunculkan 90 detik penuh horor.

Dilansir CNN, Selasa (24/9/2019), penumpang dalam penerbangan Delta Air Lines yang mengalaminya pada minggu lalu. Mereka ketakutan ketika pesawat mendadak kehilangan ketinggian dari 39.000 kaki ke 10.000 kaki. Artinya, pesawat itu terjun bebas nyaris 9.144 meter (9,1 km) secara drastis.

Kata maskapai itu dalam sebuah pernyataan, pesawat ini mengalami gangguan tekanan kabin selama perjalanan. Penerbangan itu tinggal landas dari Atlanta menuju ke Fort Lauderdale tetapi kemudian dialihkan ke Tampa.

Delta mengatakan bahwa pilot mengeluarkan masker oksigen untuk para penumpang. Ia mengakui bahwa ada penurunan pesawat dengan cepat namun situasi masih terkontrol. Pesawat itu pada akhirnya mendarat dengan selamat di Tampa.

"Masker udara, masker oksigen jatuh dari bagian atas pesawat. Kekacauan terjadi di antara para penumpang," kata salah satu penumpang, Harris Dewoskin.

Salah satu pramugari berulang kali mengatakan kepada penumpang melalui pengeras suara agar tidak panik. Tapi itu tidak membuahkan hasil.

"Jelas ini adalah momen yang menegangkan dan banyak orang yang sulit bernapas hingga bernapas sangat keras," kata Dewoskin.

Seorang penumpang begitu takut sehingga dan dia mulai memeluk putranya. Ia memberitahu bahwa dia sangat menyayanginya.

"Kejadian itu selama 60 hingga 90 detik yang menakutkan di mana kami tidak benar-benar tahu apa yang sedang terjadi. Pada ketinggian 15.000 kaki di udara, itu adalah saat yang menakutkan," kata Dewoskin.

Bukan Atlantis, Peneliti Temukan 'Benua Baru' di Bawah Eropa

Benua yang hilang telah ditemukan di bawah Eropa. Para peneliti menemukannya tersembunyi di Bumi. Tapi ini bukanlah Atlantis yang sering dijuluki "Benua Hilang".

Dilansir CNN, Selasa (24/9/2019), para peneliti menemukannya ketika merekonstruksi evolusi geologi yang cukup kompleks di wilayah Mediterania. Datarannya naik bersama jajaran gunung dan turun dengan laut antara Spanyol ke Iran.

Benua baru itu disebut Adria Raya. Seukuran Greenland dan dataran itu terputus dari Afrika Utara atau tenggelam di bawah Eropa Selatan sekitar 140 juta tahun yang lalu.

"Lupakan Atlantis. Tanpa disadari, sebagian besar turis menghabiskan liburan mereka setiap tahun di benua hilang Adria Raya," kata Douwe van Hinsbergen, penulis studi dan profesor tektonik global dan paleogeografi di Universitas Utrecht.

Studi ini dipublikasikan pada bulan ini di jurnal Gondwana Research. Mereka meneliti evolusi pegunungan dan dapat menunjukkan evolusi benua.

"Sebagian besar rantai gunung yang kami selidiki berasal dari satu benua yang terpisah dari Afrika Utara lebih dari 200 juta tahun yang lalu," kata van Hinsbergen.

"Satu-satunya bagian yang tersisa dari benua ini adalah garis yang membentang dari Turin melalui Laut Adriatik ke ujung yang membentuk Italia," imbuhnya.

Daerah ini disebut Adria oleh ahli geologi, sehingga para peneliti merujuk ke benua yang sebelumnya belum ditemukan sebagai Adria Raya. Di wilayah Mediterania, ahli geologi memiliki pemahaman yang berbeda tentang lempeng tektonik.

Lempeng tektonik adalah teori di balik samudera dan benua terbentuk. Teori itu menunjukkan bahwa lempeng tidak berubah bentuk ketika mereka bergerak berdampingan satu sama lain, namun yang terjadi di dataran Turki dan Mediterania berbeda.

"Ini kekacauan geologis, semuanya melengkung, rusak dan bertumpuk. Perbandingannya adalah Himalaya yang mewakili sistem itu. Di sana ada beberapa garis patahan besar dengan jarak lebih dari 2.000 kilometer," kata van Hinsbergen.

Dalam kasus Adria Raya, sebagian besar berada di bawah air, ditutup laut dangkal, terumbu karang dan sedimen. Sedimen-sedimen itu membentuk bebatuan ketika Adria Raya dipaksa turun ke bawah mantel Eropa Selatan.

Batu-batu yang terkikis itu menjadi barisan pegunungan di daerah-daerah ini, yakni Pegunungan Alpen, Apennine, Balkan, Yunani dan Turki. Subduksi, terjadinya gerakan lempeng ke bawah lempeng lainnya adalah cara awal pembentukan rantai gunung.

"Penelitian kami memberikan sejumlah besar wawasan, juga tentang vulkanisme dan gempa bumi, yang sudah kami terapkan di tempat lain. Anda bahkan dapat memperkirakan seperti apa wilayah yang akan terlihat di masa depan," kata Van Hinsbergen.

Merekonstruksi evolusi pegunungan di Mediterania membutuhkan kolaborasi karena cakupannya lebih dari 30 negara. Masing-masing harus ada survei geologis, peta dan rancangan pikiran yang sudah ada sebelumnya tentang bagaimana sesuatu terbentuk.

Menggunakan piranti lunak rekonstruksi tektonik lempeng, para peneliti benar-benar mengupas lapisan-lapisan bawah bumi. Itu membawa memori ke masa di mana benua-benua tampak jauh berbeda dari peta yang kita kenal sekarang.

Kata peneliti, Adria Raya mulai menjadi benua sendiri sekitar 240 juta tahun yang lalu selama periode Trias. Ada beberapa blok yang lebih kecil dan sekarang membentuk dari Rumania, Turki hingga Armenia.

"Sisa-sisa kekurangan beberapa kilometer dari benua yang hilang masih dapat dilihat di pegunungan. Sisa lempeng benua, yang tebalnya sekitar 100 km, jatuh di bawah Eropa Selatan ke dalam mantel bumi, di mana kita dapat masih melacaknya dengan gelombang seismik hingga kedalaman 1.500 kilometer," kaya Hinsbergen.

Ini bukan pertama kalinya benua yang hilang ditemukan. Pada Januari 2017, para peneliti mengumumkan penemuan benua yang hilang yang tersisa dari superbenua Gondwana, yang mulai pecah 200 juta tahun lalu.

Potongan sisa itu ditutupi lava pada saat ini ada di bawah Mauritius, sebuah pulau di Samudra Hindia. Dan pada bulan September 2017, tim peneliti yang berbeda menemukan benua yang hilang di Zandia melalui pengeboran laut di Pasifik Selatan.