Sabtu, 21 Desember 2019

Istimewanya Kopi Flores yang Sudah Mendunia

 Selamat Hari Kopi Sedunia. Indonesia harus bangga di hari ini, karena kita memiliki kekayaan itu yang berasal dari Flores.

Kopi Flores dikatakan anugerah luar biasa. Ada beberapa alasan yang menyertainya.

"Khasiat dari kopi Flores luar biasa dibanding kopi yang lain. Keaslian biji kopinya dari faktor geografis alam sehingga menghasilkan kopi yang bagus. Karena tanpa pupuk pun jadi," jelas Florianus Nandi yang juga guide lokal di Flores.

Awalnya, kopi di Flores berjenis robusta. Pada tahun 1911 dibawa oleh Belanda. Lalu jenisnya berganti.

"Kemudian didatangkan kopi arabika dari Kolombia kalau tidak salah tahun 1927. Sekarang disebut bajawa," jelas Flori.

Ia menjelaskan bahwa umumnya kopi ada di daerah pegunungan. Banyak penghasil kopi ada di Waerebo Kabupaten Manggarai Tengah, Ndoso di Kabupaten Manggarai Barat, Lelak di Kabupaten Manggarai Tengah, Bajawa di Kabupaten Ngada hingga di Colol dari Kabupaten Manggarai Timur," urai dia.

Kata Flori, kini ada kopi yang berjenis arabika dan robusta. Namun yang dominan sekarang adalah jenis arabika.

Bertahun-tahun berlalu, ritel kedai kopi dunia melirik hasil dari bumi Flores. Adalah Starbucks yang telah memanen hasilnya.

"Starbucks itu kepanjangan tangannya ada di setiap kampung-kampung di Pulau Flores. Dia menyeleksi saat panen," kata dia.

Flori menyebut panen kopi jenis arabika ada di bulan Juni-Agustus. Lalu kopi jenis robusta dipanen dari Agustus sampai September.

"Untuk Starbucks mereka bekerjasama dengan petani kopi untuk meningkatkan perekonomian. Dan petani dapat penghasilan lebih karena tumpang sari dalam pertaniannya karena pengembangan perusahaan itu," terang dia.

Dan, Indonesia punya penghasil kopi yang sangat banyak mulai dari Aceh hingga Lampung, pegunungan di Jawa Barat hingga Banyuwangi, Bali, NTT, Sulawesi dan terakhir di Papua. Selamat Hari Kopi Sedunia!

Ini Taman Cantik Tempat Kaisar China Biasa Berleha-leha

Di Beijing, ada satu taman yang tersohor. Namanya Bei Hai Gongyuan. Konon di taman cantik ini, Kaisar China biasa bersantai dan berleha-leha.

Dalam Bahasa Mandarin, Beihai berarti pantai utara, sedangkan gongyuan berarti taman. Letaknya persis di sebelah barat pintu utara Forbidden City atau kota terlarang, tempat tinggal Kaisar.

Di sini, kita bisa menikmati bukan hanya pemandangan indah, tetapi juga ketenangan dan kesegaran. Taman seluas 68 hektar ini setengahnya merupakan danau buatan.

Di sekelilingnya terdapat bangunan-bangunan dengan ukiran klasik khas China. Tanaman berbatang besar dengan dedaunan menjulur mengitari sepanjang danau menambah keasrian taman ini.

Sementara itu di bagian lain dari taman ini terdapat pegunungan di mana berdiri sebuah pagoda besar berwarna putih. Letaknya di pulau Bunga Giok (Jade Flower island). Dalam tradisi China kuno, perpaduan antara pegunungan, air dan pepohonan merupakan kombinasi yang serasi yang dipercaya dapat mendatangkan hoki.

Taman ini dibangun sejak kekaisaran Liao, kira-kira abad 10 Masehi. Tetapi kemudian terjadi pemugaran di beberapa Dynasti selanjutnya dan baru dibuka untuk umum persisnya tahun 1925. Taman ini merupakan salah satu taman terbesar di Beijing yang dijaga kelestariannya.

Konon, ketika musim panas tiba, selain di Summer Palace, kaisar dan keluarganya menghabiskan waktunya di sini. Banyaknya pepohonan rindang dan danau buatan membuat taman ini membuat suasana menjadi sejuk dan damai. Mereka juga melakukan sembahyang di sini. Tak heran, beberapa bangunan didirikan untuk keperluan sembahyang.

Salah satunya adalah gedung sembilan naga. Mengapa disebut demikian, karena di dindingnya terdapat ukiran sembilan ekor naga yang sedang bermain dengan berbagai posisi.

Melihat Kota Lama Semarang yang Lebih Bagus dari Kota Tua Jakarta

Setelah direvitalisasi, kawasan Kota Lama Semarang kini sudah rapi dan indah. Kawasan ini jauh lebih bagus dari Kota Tua Jakarta yang kotor dan semrawut.

Kembali ke Semarang, seperti membuka kenangan lama ketika masih bersama almarhum bapak. Setiap mudik Lebaran, pasti kami selalu mampir ke kota di ujung utara Jawa dan menjadi ibukota propinsi Jawa Tengah ini.

Memasuki musim panas, hawa panas menyengat khas kota pesisir segera menyergap. Dengan menggunakan jalur darat dan masuk tol Cipali, Jakarta - Semarang dapat ditempuh selama 6 jam, dari sebelumnya non tol bisa memakan waktu 12 jam.

Dengan semakin mudahnya akses darat dengan mobil atau kereta, dan akses udara melalui pesawat, kota Semarang menjadi tujuan wisata baru. Terbukti dengan semakin penuhnya pemesanan kereta Jakarta - Semarang (PP).

Ada banyak yang bisa dilakukan traveler di kota pelabuhan tua ini. Salah satunya yaitu wisata ke Kota Lama. Dari kawasan pusat oleh-oleh khas Semarang yaitu di Jalan Pandanaran, Kota Lama bisa ditempuh hanya dengan waktu 10 menit saja.

Pertama kali, kami berkunjung sabtu malam minggu. Pukul 8 malam, kawasan Kota Lama Semarang tersebut sudah ramai dengan para wisatawan asing dan lokal. Macet pun menerjang ketika memasuki jalan utama kota lama yang tidak terlalu lebar.

Bagi yang menggunakan mobil pribadi, agak sulit untuk menemukan parkir mobil, karena dilarang parkir sembarangan di kawasan ini. Hanya ada beberapa lokasi parkir mobil dan motor. Selebihnya pengunjung kota lama harus berjalan kaki untuk menikmati suasana sekitar.

Akhirnya kami hanya bisa menikmati suasana kota lama yang cantik di malam hari dari dalam mobil. Minggu pagi pukul 9, kami segera bergegas kembali ke kawasan Kota Lama dan pilihan kami benar. Suasana kota lama Semarang lebih lengang dan kami bisa parkir di kawasan yang telah ditentukan dengan jarak hanya 100 meter dari lokasi Gereja Blendoeg yang menjadi ikon kota lama tersebut.

Dulu waktu saya masih kecil, masih ingat betul suasana kota lama yang lusuh dan tidak terawat. Bangunan kunonya seperti sedang menunggu untuk hancur atau dihancurkan serta diganti dengan bangunan baru.

Kini kawasan kota lama Semarang masih dalam revitalisasi. Sejumlah jalan sudah dirapikan, pedestrian pun makin ciamik dan dibatasi dengan rantai besi agar motor tidak parkir sembarangan, serta penjaja makanan tidak seenaknya saja berjualan.

Gedung tua sudah beralih fungsi dan dihidupkan kembali menjadi restoran dan yang paling hits menjadi kedai kopi. Beberapa kedai kopi menjadi tempat nongkrong yang instagenic dan mengasyikan. Salah satunya kedai kopi Filosofi Kopi & Keris Cafe.

Taman Sri Gunting yang nyaman dan rindang menjadi oase tersendiri di kota lama. Beberapa manusia silver siap untuk difoto bersama dan jangan lupa sisihkan sedikit uang atas jas mereka.

Gereja Blendoeg dengan atap kubahnya yang unik, bangunan Spiegel yang kini beralih fungsi menjadi restauran serta bangunan Marba dengan dindingnya yang berwarna merah menjadi spot Instagenic.

Belum lagi pemerintah kota Semarang yang menjadikan kawasan kota lama menjadi kawasan kreatif. Bayangkan ketika ekonomi rakyat diaktifkan dari kota lama ini. Salah satu bangunan lama, menjadi pusat kreatif UKM, di dalamnya kita bisa membeli sejumlah kerajinan tangan buatan lokal dengan harga terjangkau.

Kota Lama Semarang lebih menarik dibandingkan dengan kota tua Jakarta, lebih rapi dan bersih. Jalanan pun lebih tertata dan sangat menarik sekali, sementara kota tua Jakarta jauh tertinggal.

Revitalisasi kedua kota ini masih berjalan, tetapi kota lama Semarang sudah lari di depan, sementara kota tua Jakarta masih jalan di tempat. Beberapa area masih sangat kotor dan semrawut, pedestrian belum tertata rapi padahal kawasan kota tua Jakarta luasnya 2x dibandingkan Semarang. Belajarlah Jakarta dari Semarang!