Jumat, 20 Desember 2019

Berdarah-darah, Cara Warga Banjarnegara Meminta Hujan

Musim kemarau yang panjang membuat sebagian besar warga di Desa Gumelem, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah melakukan Tradisi Unjungan. Tradisi ini merupakan ritual tradisional untuk meminta hujan yang sudah dilakukan secara turun temurun dari nenek moyang mereka selama ratusan tahun silam.

Acara ritual tradisional ini dilakukan dengan cara adu pukul pada bagian kaki yang dilakukan oleh orang dewasa dengan menggunakan sebilah rotan sebagai alat untuk memukul. Di Desa Gumelem sendiri, Tradisi Ujungan telah dilakukan secara turun temurun serta biasa diselenggarakan pada saat musim kemarau panjang.

Karena pada musim ini para petani di desa tersebut sangat membutuhkan air untuk mengairi sawahnya. Menurut kepercayaan sebagian warga di desa tersebut, untuk mempercepat datangnya hujan, para pemain Ujungan harus memperbanyak pukulan kepada lawannya hingga terluka dan mengeluarkan darah.

Tradisi Ujungan yang merupakan acara ritual dengan menggabungkan antara seni musik, tari dan bela diri. Ritual adu pukul ini tetap menjunjung tinggi sportivitas dan persaudaraan antar pemainnya, pasalnya untuk setiap pemain yang berani maju dan bertarung harus tetap mengikuti peraturan yang telah diberikan oleh seorang wasit.

Sebelum para peserta unjungan mengikuti acara ritual ini mereka yang berani akan mengajukan diri untuk ikut bermain. Setelah itu pemain ini akan dikenakan perlengkapan oleh panitia untuk keamanan dirinya. Acara ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik domestik dan mancanegara karena keunikannya. Setiap acara ini dilakukan selalu ramai dengan pengunjung yang datang untuk menyaksikan.

Untuk tahun ini gelaran Festival Ujungan akan dilaksanakan tanggal 4 sampai 6 Oktober 2019 tepatnya di area persawahan dusun Ketandan, Desa Gumelem. Selain acara inti Ujungan, juga ditampilkan beberapa seni hiburan serta budaya seperti seni kuda lumping, kenthongan dan lainnya. Untuk tanggal 5 pada malam hari sangat cocok untuk kaum muda menghabiskan malam minggu di acara Festival Ujungan karena akan disuguhkan acara senandung kitiran yang membuat suasana malam minggu menjadi berwarna.

Pulau Terbaik Dunia Cuma Punya Enam Orang Penduduk

Flatey Island di Islandia baru saja dinobatkan jadi pulau terbaik dunia tahun ini. Apa traveler tahu tak ada mobil di pulau yang cuma punya enam orang penduduk ini?

Pulau tersebut dinobatkan Big 7 Travel sebagai pulau paling memesona untuk dikunjungi saat ini. Selain melibatkan survei dari 5.000-an pembacanya, plus review dari situs-situs lain dan opini dari tim redaksi media tersebut.

Dilansir dari News.com.au, Jumat (4/10/2019), Flatey Island berlokasi di lepas pantai barat Islandia. Ukurannya hanya 1 km x 2 km dan satu-satunya pulau di Teluk Breidafjordur yang berpenduduk. Nama Flatey kabarnya merujuk pada tanah datar tanpa bukit di sini.

Menurut Insider.com, cuma ada enam orang yang menetap di Flatey Island termasuk di musim dingin. Populasi di sini meningkat pesat saat cuaca mulai hangat, secara khusus karena turis berduyun-duyun datang untuk berlibur musim panas. Menurut otoritas pariwisata Islandia, pulau ini kedatangan nyaris 9.000 turis tahun 2017.

Pulau ini juga menjadi habitat dari burung-burung cantik. Flatey Island merupakan rumah dari 50 spesies burung, termasuk burung puffin yang pindah ke pulau ini saat cuaca hangat di antara bulan April-September. Keberadaan satwa ini juga membuat Flatey Island menjadi pulau yang populer di kalangan pengamat burung.

Menurut Guide to Iceland, untuk sampai ke Flatey Island wisatawan cuma bisa melakukannya dengan menumpangi feri dari Stykkisholmur atau Brjanslaeku, di bagian pesisir barat Islandia. Tak ada mobil di sana sehingga turis harus berjalan kaki.

Merujuk pada listingnya di Booking.com, disebutkan pula bahwa pulau ini memiliki penginapan mungil bernama Hotel Flatey. Tamu di sini bisa menikmati sarapan prasmanan dan pemandangan ke laut di sekeliling.

Ini Replika Venesia di Puncak Bogor

 Ada kawasan wisata untuk lepas penat di Puncak Bogor, Little Venice. Seperti namanya, wisatawan akan merasa seperti liburan di Venesia.

Keindahan kota kanal Venesia memang jadi favorit. Tapi tak perlu jauh ke Italia, traveler bisa main ke Bogor untuk merasakan Venesia.

Little Venice berlokasi di Batubalang, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur Jawa Barat. Tepatnya masih berada dalam kawasan Kota Bunga.

Little Venice merupakan miniatur dari Kota Venesia, Italia yang bisa dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Dengan konsep tempatnya yang mirip dengan Kota Venesia membuat kita seolah-olah sedang berada di luar negeri. Inilah yang menjadi daya tarik kota wisata ini.

Layaknya Venesia, tempat wisata ini menyediakan wahana gondola untuk wisatawan. Di sepanjang perjalanan menggunakan gondola, kamu akan menikmati keindahan arsitektur bagunan-bangunannya. Mengajak pasangan bisa menjadi pilihan terbaik karena suasana yang disajikan cukup romantis.

Selain gondola, kamu juga bisa menikmati kapal, perahu, sepeda air, ubber boat, perahu naga, dan lainnya. Masing-masing wahana ini memiliki tiket masuk yang berbeda, dan pastikan kamu manyakan sebelum mencobanya ya.

Wisata ikonik dunia lain juga bisa kamu temukan di sini. Kamu juga bisa menikmati ikon dunia lainnya seperti Patung Merlion Singapura, Menara Eiffel Paris, hingga Kuil Itsukushima Jepang.

Little Venice juga menyediakan fasilitas penunjang. Di sana juga terdapat kolam pancing, kolam renang, arena fantasi, tempat bermainan anak, lapangan tenis, dan penyewaan kuda. Selain itu, di sana juga terdapat restoran, toilet umum, dan tempat parkir yang cukup luas menampung pengunjung.

Bagi kamu yang ingin berkunjung ke Little Venice, kamu bisa menuju ke kawasan Villa Estate, Puncak, Bogor. Villa yang berkonsep megah ini awalnya dibangun untuk penginapan. Tetapi karena viralnya tempat ini membuat pengelola akhirnya membukanya untuk umum.

Berdarah-darah, Cara Warga Banjarnegara Meminta Hujan

Musim kemarau yang panjang membuat sebagian besar warga di Desa Gumelem, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah melakukan Tradisi Unjungan. Tradisi ini merupakan ritual tradisional untuk meminta hujan yang sudah dilakukan secara turun temurun dari nenek moyang mereka selama ratusan tahun silam.

Acara ritual tradisional ini dilakukan dengan cara adu pukul pada bagian kaki yang dilakukan oleh orang dewasa dengan menggunakan sebilah rotan sebagai alat untuk memukul. Di Desa Gumelem sendiri, Tradisi Ujungan telah dilakukan secara turun temurun serta biasa diselenggarakan pada saat musim kemarau panjang.

Karena pada musim ini para petani di desa tersebut sangat membutuhkan air untuk mengairi sawahnya. Menurut kepercayaan sebagian warga di desa tersebut, untuk mempercepat datangnya hujan, para pemain Ujungan harus memperbanyak pukulan kepada lawannya hingga terluka dan mengeluarkan darah.

Tradisi Ujungan yang merupakan acara ritual dengan menggabungkan antara seni musik, tari dan bela diri. Ritual adu pukul ini tetap menjunjung tinggi sportivitas dan persaudaraan antar pemainnya, pasalnya untuk setiap pemain yang berani maju dan bertarung harus tetap mengikuti peraturan yang telah diberikan oleh seorang wasit.

Sebelum para peserta unjungan mengikuti acara ritual ini mereka yang berani akan mengajukan diri untuk ikut bermain. Setelah itu pemain ini akan dikenakan perlengkapan oleh panitia untuk keamanan dirinya. Acara ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik domestik dan mancanegara karena keunikannya. Setiap acara ini dilakukan selalu ramai dengan pengunjung yang datang untuk menyaksikan.

Untuk tahun ini gelaran Festival Ujungan akan dilaksanakan tanggal 4 sampai 6 Oktober 2019 tepatnya di area persawahan dusun Ketandan, Desa Gumelem. Selain acara inti Ujungan, juga ditampilkan beberapa seni hiburan serta budaya seperti seni kuda lumping, kenthongan dan lainnya. Untuk tanggal 5 pada malam hari sangat cocok untuk kaum muda menghabiskan malam minggu di acara Festival Ujungan karena akan disuguhkan acara senandung kitiran yang membuat suasana malam minggu menjadi berwarna.