Kamis, 19 Desember 2019

Pantai 'Rahasia' nan Indah di Aceh

Aceh punya banyak destinasi yang bisa traveler kunjungi. Termasuk di antaranya sebuah pantai 'rahasia' dengan pemandangan yang indah. Dimanakah itu?

Tempat wisata yang satu ini adalah salah satu pantai terindah yang ada di Aceh. Pantai satu ini masih jarang dikunjungi oleh wisatawan dari domestik apalagi dari mancanegara. Nama pantai ini adalah Mong-mong Secret Beach.

Mungkin karena dari namanya yang rahasia, pantai ini menjadi rahasia dari para wisatawan. Sebenarnya letak pantai ini tidak jauh dari ibukota propinsi Aceh yaitu Banda Aceh. Dengan melalui perjalanan darat, kita hanya butuh waktu sekitar 60 menit untuk sampai ke Mong-mong Secret Beach.

Mong-mong Secret Beach ini terletak di Gampong Meunasah Kareung, kecamatan Lhok Nga, kabupaten Aceh Besar. Keindahan pantai yang masih asri menjadi pemandangan yang luar biasa untuk para pencinta alam bebas yang senang dengan wisata bahari nya.

Untuk menempuh lokasi pantai memang tidaklah mudah. Kita harus melewati jalan setapak yang bersisian dengan kebun-kebun warga. Jalan ini akan terasa licin dan berat apabila sedang dalam kondisi hujan.

Kita masih harus melalui sedikit bukit untuk langsung bisa menuju pantai. Tapi itu semua akan terbayar begitu kita sudah mendengar deburan ombak dan melihat keindahan pantainya.

Di lokasi pantai juga sudah tersedia cafe tempat kita makan dan minum, dan menjadi tempat berselfie ria. Kalau ke Mong-mong Secret Beach jangan lupa untuk menyiapkan juga alat-alat pancing, bagi yang suka memancing. Di daerah pantai masih banyak juga karang-karang besar tempat para pemancing mania.

Mengunjungi tempat-tempat wisata menjadikan hati dan jiwa kita jadi kembali fresh. Walaupun kadang kita tidak bisa bepergian sampai ke luar negeri untuk menikmati keindahan alam semester ini, cobalah sesekali bepergian walaupun hanya ke museum, pantai dan tempat wisata lainnya yang ada di sekitar tempat Anda tinggal.

Konaba'u, Grand Canyon ala Timor Tengah Selatan

Di Kabupaten Timor Tengah Selatan, tepatnya di Desa Boti ada bentang alam serupa Grand Canyon di Negeri Paman Sam. Namanya Konaba'u. Pemandangannya menakjubkan!

Menikmati liburan sebenarnya tak harus jauh-jauh karena Nusa Tengara Timur punya beragam destinasi wisata yang tak kalah kerennya. Salah satunya adalah keindahan Konaba'u yang ada di Timor Tengah Selatan ini.

Terletak di desa Boti, kecamatan Ki'e, Timor Tengah Selatan. Di tempat ini menawarkan keindahan maha karya alam selama ratusan tahun. Posisinya kurang lebih 40 km dari pusat kota So'E.

Nama asli dari wisata alam nan indah ini memang Konaba'u, atau kata lain terowongan bawah laut. Yang membuat kawasan Konaba'u semakin menarik adalah keberadaan dinding bebatuan keras sisi kiri dan kanan terowongan.

Di atas tebing batu terdapat pohon-pohon besar yang akarnya menjulur ke bawah. Kehadiran tebing batu serta hutan yang berada di atas tebing batu memberikan kesan dan daya tarik tersendiri.

Akses menuju Konaba'u terbilang tidak cukup sulit karena memang lokasinya berada dekat dengan perkampungan warga. Jangan khawatir bagi anda yang mengunakan kendaraan, Anda bisa memarkirkan kendaraan di rumah-rumah warga yang tidak jauh lokas tersebut. Beberapa meter sebelum sampai lokasi, kamu juga akan dibawa melewati semak-semak dan jalanan yang cukup licin .

Untuk menelusuri lokasi Konaba'u pengunjung bisa berjalan kaki sepanjang terowongan yang diperkirakan sepanjang satu kilo meter. Selama perjalanan yang cukup panjang nantinya Anda akan bertemu beragam arus sungai kecil yang memungkinkan bagi Anda untuk sekedar membasuh wajah.

Di sekitar sungai terdapat bebatuan yang bisa diambil sebagai latar foto, aktivitas lain yang bisa dilakukan di lokasi ini adalah bermain air dari di pancuran alam yang mengalir dari dinding batu.

Konaba'u di Kabupaten Timor Tengah Selatan memunyai potensi wisata yang cukup tinggi. Namun sayang, Lokasi tersebut belum dieksplorasi secara maksimal, akibatnya lokasi ini tidak begitu familiar di telinga masyarakat. Beautiful Timore!

Keindahan di Balik Rusaknya Jalanan Lembata (2)

Saat kesana, dari Lewoleba, ibukota Kabupaten Lembata, kami melewati jalur selatan atau ruas jalan Waijarang (Kecamatan Nubatukan) Wulandoni.

Sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan yang luar biasa indahnya. Mulai dari kemegahan bukit-bukit, diantaranya Bukit Cinta dan Bukit Doa, hingga pesona pantai yang tak pernah putus.

Namun kami harus berjibaku dengan keadaan jalan yang sangat buruk.

Maklmum, ruas jalan yang mulus atau sudah di hotmix hanya dari Lewoleba sampai Waijarang atau sedikit melewati Kuma Resort, rumah pribadi milik Bupati Kabupaten Lembata, Eliaser Yentji Sunur.

Kawasan Kuma Resort tampak megah lengkap dengan pos jaga Satpol PP. Terlihat juga di pinggir jalan sedang dibangun sebuah SPBU yang menurut warga setempat, itu adalah milik Bupati Sunur.

Kondisi berbeda ketika kami melewati Kuma Resort. Rumah warga tampak rapuh dengan kondisi jalan rusak berat.

Ada sedikit perbaikan jalan di daerah Bukit Doa hingga perbatasan Loang. Namun itu hanya sekitar 4 kilometer, selebihnya hancur total.

Bahkan lebarnya pun hanya sekitar 2-3 meter diapit jurang terjal dan tebing tinggi dengan bebatuan besar yang seolah akan jatuh menindih siapa saja yang melewati jalan itu.

Adrenalin saya sontak terpacu menghadapi jalan rusak dengan kemiringan menurun dan mendaki yang tajam itu. Dua bahaya seakan terus mengancam saya. Bisa terjungkal ke jurang atau mati tertindih bebatuan besar.

Puji Tuhan kami selamat sampai tujuan. Kami juga sempat singah di Dusun Walet, sebuah dusun yang berada di pinggir pantai terjal di Desa Tapobali.

Sepanjang jalan, saudara saya di dalam mobil terus berceloteh, selama ini bupati kerja apa saja? APBD dikemanakan? Kemana hati dan perhatian bupati? Kasihan masyarakat di sini.

Singkat kata tibalah kami di Lamalera. Di sana tak ada aktivitas perburuan Ikan Paus. Hanya terlihat tiga orang nelayan yang baru pulang melaut dengan hasil tangkapan seekor Penyu dewasa.

Sementara para nelayan lainnya terlihat hanya duduk-duduk santai di dekat perahu tradisional atau Paledang yang biasa mereka gunakan untuk berburu Ikan Paus.

Setelah puas menikmati panorama Lamalera, kami pun beranjak pulang ke Leweleba melewati jalan tengah atau ruas jalan Wulandoni-Waikomo.

Ruas jalan ini juga rusak berat. Hanya sedikit ruas yang di aspal lapen. Namun kondisinya pecah dan berlubang. Bahkan di beberapa titik terdapat kubangan debu dengan ketebalan sekitar 20 sampai 30 centimeter.

Walau begitu, ruas jalan ini 100 kali lipat lebih baik ketimbang ruas jalan Waijarang-Wulandoni.

Saya sempat bertanya kepada beberapa warga di sepanjang jalan Waijarang-Wulandoni dan Wulandoni-Waikomo. Kenapa kondisi jalan seperti ini?

Kata mereka, sejak Indonesia merdeka, daerah mereka kurang mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Lembata, Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Pusat, termasuk Lembata.

Yang pasti, bukan hanya jalan ke Lamalera yang rusak parah. Tapi jalan menuju ke semua kecamatan di Lembata juga kondisinya sama saja.

Bahkan jalan lingkungan di dalam kota Lewoleba, ada ruas jalan yang masih tanah kosong atau belum tersentuh pembangunan.

Jika dibandingkan dengan kabupaten lain di NTT, hemat saya, infrastruktur jalan di Lembata lah yang paling buruk.

Mudah-mudahan keadaan jalan ini segera diperbaiki oleh Pemerintah Kabupaten Lembata agar wisatawan lokal maupun dari luar mudah menjangkau seluruh tempat wisata di Lembata yang ujungnya ekonomi masyarakat setempat makin membaik. Semoga!