Kamis, 19 Desember 2019

Icip-icip Es Krim Lezat Nan Legendaris di Solo

Di Solo, ada sebuah kafe yang konsisten menyajikan es krim sejak tahun 1952. Namanya New Es Krim Tentrem. Rasanya lezat dan legend banget!

Di kota Solo banyak terdapat museum yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Seperti Museum Danar Hadi, Museum Tumurun, Museum Keris dan lainnya. Setelah puas berkeliling tentunya ingin mencicipi kulinernya juga. Mampir saja ke New Es Krim Tentrem di Jl Slamet Riyadi No 136.

Tempat ini menyajikan berbagai varian es krim kekinian. Salah satunya Jamaica, es krim coklat yang disajikan di atas wafel bertabur kacang dan toping ceri. Rasa lembut es krimnya dan manis coklat memanjakan lidah.

Menu lainnya ada One Night Stand, satu scoop es krim dengan pihan rasa sesuai selera anda dan taburan cornflakes. Manis es krimnya terasa pas di lidah. Pilihan menu lainnya adalah Scholar Chip, Banana Split, Tutti Fruity, Casablanca dan masih banyak lagi.

Dengan harga mulai dari Rp 15.000-Rp 22.000 kafe ini menawarkan es krim yang rasanya pasti ngangenin. Saat memesan es krim akan disediakan 1 gelas kecil air putih. Gunanya untuk menetralisir rasa manis.

Untuk pilihan rasa es krim anda bisa memilih mulai dari strawberry, vanilla, green yea, oreo, peach, red velvet dan lain sebagainya. Sebelum memesan menu ada baiknya melihat pilihan rasa di kounter.

Di kafe yang kerap dikunjungi turis lokal dan asing ini, juga menyediakan menu lain seperti sosis, kroket sampai gado-gado. Cukup lengkap bukan untuk pilihan bersantai.

Selain itu konsep bangunan kafe ini cukup modern. Setiap sudut didesain berbeda sehingga mengundang pengunjung untuk berfoto. Seperti di lantai 2 yang menyediakan tempat duduk sofa, bar dan ada spot foto sepeda.

Lengkapi kunjungan anda ke Solo dengan menikmati New Es Krim Tentrem yang dinginnya bikin tentram hati.

Keindahan di Balik Rusaknya Jalanan Lembata

Siapa yang menyangkal keindahan Pulau Lembata? Sayang, infrastruktur jalanan yang rusak jadi kendala sebelum menikmati keindahan Lembata.

Hampir setiap jengkal pantai di Pulau Lembata memiliki panorama yang memikat hati. Pasir putihnya membentang luas dibalut pandangan pantai berkelok ditumbuhi pohon kelapa dan Lontar.

Di bagian depan pulau penghasil jagung titi terbesar di Provinsi NTT ini berjejer pulau-pulau kecil tak berpenghuni seperti Pulau Siput dan Pulau Suanggi.

Di belakang kedua pulau itu berjejer pula tiga pulau yang didiami manusia, yakni Adonara, Solor dan Flores.

Dari kejauhan tampak seperti benteng berlapis yang siap menjaga kenyamanan siapa saja saat berkunjung ke Lembata menggunakan kapal laut.

Nah, ketika berada di selat Lembata inilah, kita dengan mudah melihat Ikan Paus, Ikan Lumba-Lumba dan Ikan Torani atau ikan terbang meliuk-liuk di permukaan air.

Selain itu, Lembata juga menawarkan kuliner seafood yang aduhai enaknya. Makanan ini bisa dinikmati di dalam kawasan Pelabuhan Lewoleba. Disini terdapat deretan panjang warung-warung makan dengan menu andalan biota laut, mulai dari ikan, udang, kepiting, cumi, gurita hingga rumput laut balon.

Kalender Unik Suku Boti di NTT, Seminggu Ada 9 Hari

Suku Boti di NTT punya kalender unik yang berbeda dari kalender biasa. Mereka percaya dalam seminggu ada 9 hari, dengan filosofinya masing-masing.

Kerajaan Boti adalah kerajaan terakhir di pulau Timor yang masih tetap bertahan dari gempuran modernisasi. Kerajaan Boti atau yang biasa dikenal dengan desa adat Boti berada di Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Untuk mencapai desa ini, Dari kota Soe dibutuhkan waktu satu setengah jam dalam kondisi normal, dan dua sampai tiga jam jika dalam musim penghujan.

Jarak dari Soe, kota kabupaten Timor Tengah selatan ke desa Boti sekitar 43 KM. Letak desa Boti ini berada di balik pegunungan Timor yang memiliki medan sangat berat dan rumpit untuk dilalui.

Kendaraan umum seringkali hanya sampai setengah perjalanan, selebihnya perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki atau menyewa ojek melalui jalan berkapur yang berdebu dan berbatu.

Jalan-jalan di sini pun berada di pinggir tebing yang cukup labil, sehingga kondisi untuk mencapai lokasi yang dituju, cukup membahayakan.

Masyarakat Boti sangat konsern dalam memelihara dan mempertahankan tradisi nenek moyang berupa nilai-nilai dan norma-norma adat suku bangsa Dawan atau Atoni Meto hingga saat ini.

Salah satu tradisi yang masih dipegang teguh adalah Sistem Penanggalan atau Kalender Harian masyarakat Boti, yang dalam sepekan terdiri dari 9 (sembilan) hari.

Dimana hari-hari tersebut mempunyai makna tersendiri. Inilah suatu pengetahuan tradisional yang juga merupakan kearifan lokal masyarakat suku Boti. Kesembilan hari tersebut adalah ssbegai berikut:

1. Neon Ai (Hari Api)

Hari yang dimaknai sebagai hari yang baik, terang dan cerah. Namun perlu berhati-hati dengan penggunaan api, sebab jika tidak dapat mendatangkan malapetaka berupa kebakaran.

2. Neon Oe (Hari Air)

Aktivitas lebih berorientasi pada air. Dalam artian harus menggunakan air secara bertanggung jawab dan pada hari ini peran dewa air (Uis Oe) sangat besar sehingga perlu juga diwaspadai.

3. Neon Besi (Hari Besi)

Hari yang dikeramatkan bagi barang-barang yang berbau besi. Jadi harus hati-hati dalam menggunakan b&ida-benda tajam seperti pisau, parang, tombak dan pedang.

4. Neon Uis Pah ma Uis Neno (Hari Dewa Bumi dan Dewa Langit)

Hari ini merupakan hari yang diperuntukan bagi semua makhluk hidup untuk memuliakan Pencipta dan Pemelihara hidup serta pemangku dan pemberi kesuburan. (Amoet Apakaet, Afafat ma Amnaifat; Manikin ma Oe,tene he Namlia ma Nasbeb).

5. Neon Suli (Hari Perselisihan)

Hari yang dimanfaatkan untuk menyelesaikan setiap perselisihan yang terjadi dalam komunitas. Berhati-hati pula dalam berinteraksi sosial dengan sesama karena peluang besar untuk terjadi perselisihan.

6. Neon Masikat (Hari Berebutan)

Hari ini merupakan kesempatan bagi warga untuk memanfaatkannya secara efisien dan efektif dalam berkomunikasi dan beraktivitas baik dengan sesama maupun lingkungan alam. Hari ini juga merupakan kesempatan untuk meraih sukses dalam hidup.

7. Neno Naek (Hari Besar)

Hari besar, yang penuh nuansa kasih persaudaraan, sehingga perlu dijauhi kecenderungan terjadinya sengketa baik dalam keluarga maupun dengan sesama tetangga atau dalam komunitas yang lebih luas lagi.

8. Neon Liana (Hari Anak-anak)

Hari yang disediakan bagi anak-anak untuk dapat mengekspresikan kebahagiaan lewat bermain dan aktivitas lainnya yang bernuansa gembira. Orang tua tidak boleh membatasi atau melarang anak-anak dalam beraktivitas.

9. Neon Tokos (Hari Istirahat)

Hari yang tenang dan teduh, sebab di balik keheningan orang Boti dapat mereflesikkan hidupnya, sejauhmana hubungan dengan sesama, alam dan teristimewa sang pencipta dan pemelihara hidup. Juga dijadikan moment untuk mensyukuri setiap berkat yang diperoleh selama sepekan. Seluruh hari-hari tersebut juga menyatu dengan kehidupan mereka.

Prinsip-prinsip hidup masyarakat Boti yang tidak serakah dan mandiri, serta tidak merusak alam membuat mereka apa adanya menghadapi hidup. Mereka merasa kaya, karena memandang bahwa apa yang dimiliki mereka telah cukup di dalam hidup, dengan alam yang mereka miliki dan di bumi yang mereka pijak.

Persepsi mereka kepada alam dengan sakral dan kehidupan mereka yang mandiri membuat kehidupan mereka tertib dan teratur, dan mereka merasa bahagia dengan apa yang ada.

Kebahagiaan mereka atas hidup dengan alam yang berada di sekitar mereka tidak menggunakan standar-standar yang diterima umum. Bahagia, derita dan sengsara mereka hanyalah karma-karma yang diterima atas hidup yang dijalankan mereka.